Jumat, 10 Mei 2013

KESEIMBANGAN DUNIA dan AKHIRAT




KESEIMBANGAN DUNIA AKHIRAT
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Al Hadits Dan Pembelajarannya
Dosen pengampu : Dr. Hj. Marhumah, M.Pd



Disusun oleh :
                                                          Deden Hadi Pranada 11410217

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2012/2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kehidupan dunia bersifat fana dan semu. Kehidupan sebenarnya adalah kehidupan setelah mati. Namun banyak manusia yang lupa atau melupakan diri. Mereka mengabaikan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada Alloh SWT.
Di era perkembangan zaman yang semakin maju, terjadi kemerosotan dalam pemeliharaan keimanan. Seperti perekonomian yang berkembang justru memalingkan perhatian manusia untuk lebih mencari harta, bahkan sampai lupa waktu hingga mendewakannya. Di lain sisi terdapat sebagian kaum muslim yang terjebak pada ibadah ritual semata dan cenderung meninggalkan perkara duniawi. Sepanjang hidupnya dihabiskan untuk beribadah dengan cara mengasingkan diri (uzlah) dari masyarakat dan berbagai cara lainnya.
Dunia merupakan ladang akhirat. Siapa yang menanam kebaikan akan memanen kebaikan pula. Namun, Allah juga mengingatkan untuk tidak melalaikan kehidupan duniawi, seperti makan, minum, bekerja, dan memberi nafkah keluarga. Maka dari itu, kami akan membahas hadits-hadits yang berkaitan dengan keseimbangan dunia dan akhirat.
B.     Rumusan Masalah
a.       Apa bunyi hadits tentang keseimbangan dunia dan akhirat?
b.      Bagaimana asbabul wurud dikeluarkannya hadits tersebut?
c.       Apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam hadits  tersebut?
d.      Bagaimana cara mengajarkan hadits tersebut kepada anak didik?
C.     Tujuan Penulisan
a.       Mengetahui hadits tentang keseimbangan dunia dan akhirat
b.      Mengetahui sebab dikeluarkannya hadits tentang keseimbangan dunia dan akhirat
c.       Mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam hadits tentang keseimbangan dunia dan akhirat
d.      Mengetahui metode yang tepat untuk mengajarkan materi hadits kepada anak didik

BAB II
PEMBAHASAN
1.      Teks Hadits dan Arti
عَنْ اَنَسٍ قَا لَ رَسُولُ الله ص م : لَيْسَ بِخَيْرِ كُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لِاَ خِرَتِهِ وَلَا اَخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتَى يُصِيْبَ مِنْهُمَا جَمِيْعًا فَاِن الدُنْيَا بَلَا غٌ اِلَى الْاَ خِرَةِ وَلَا تَكُوْنُوْا كَلًا عَلَى النَاسِ (رواه ابن عساكر عن انس)
Bukanlah orang yang baik di antara kamu orang yang meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar akhirat atau meninggalkan akhirat untuk mengejar dunia sehingga dapat memadukan keduanya. Sesungguhnya kehidupan dunia mengantarkan kamu menuju kehidupan akhirat. Janganlah kamu menjadi beban orang lain. (H.R. Ibnu Asakir dari Anas dalam Kitab Tafsir al-Kasysyaf jilid 4 hal.1670)
 حَدَثَنَا عَبْدَاللهِ بْنَ عَمْرٍو بن العاصِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص م اَلَمْ أُخْبَرَ أَنَّكَ تَصُوْمُ وَلَا تُفْطِرُ,وَتُصَلِّى؟ فَصُمْ وَأَفْطِرْ, وَقُمْ وَنَمْ , فَإِنَّ لِجَسَدِكَ حَقًا وَاِن لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًا,وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حقاً
Hadis dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash. Rasul bersabda, “Bukankah telah dikabarkan kepadaku bahwasannya engkau berpuasa dan tidak pernah berbuka, serta sholat? Berpuasalah dan berbukalah serta sholatlah dan tidurlah. Sesungguhnya bagi tubuhmu ada haq atasmu. Sesungguhnya bagi  kedua matamu ada hak atasmu, dan sesungguhnya bagi istrimu ada hak atasmu”. (H.R. Bukhori dalam kitab Shahih Bukhori jilid 3 hal.277)
Kosa kata                                                                                                                                      
                   berpuasa                  :         تَصُوْمُ             meninggalkan :            تَرَكَ
memadukan               :   يُصِيْبُ                berbuka         :          تُفْطِرُ
mengantarkan           :         بَلَا غٌ                       salat    :       تُصَلِّى
berita              :  خَبَرَ                                       beban    :       كَلًا
tubuh/badan              :         جَسَد                        tidurlah     :     نَم
  mata                :         عَيْنٌ                        istri     :             زَوْجٌ 

2.      Asbabul wurud
Latar belakang kemunculan hadis yang ke-dua tersebut adalah kisah sahabat Abdullah bin Amru yang berpuasa setiap hari dan salat sepanjang malam hingga berita tentangngnya sampai kepada Nabi yang kemudian nabi mengeluarkan hadis tersebut.
            Kemudian ada lagi kisah tentang Abu Darda’ dan Salman yang diriwayatkan oleh Abu Juhaifah. Hadis ini senada dengan hadis tersebut. Namun di dalam hadits itu terdapat peerkataan Salman kepada Abu Darda’,وَإِنَّ لِأَهْلِك عَلَيْكَ حَقًّا   (sesungguhnya keluargamu [istrimu] memiliki hak atas kamu) lalu nabi SAW menyetujuinya dalam hal tersebut. Kemudian terdapat lafal
 بَلَغَ النَّبِيَّ ص م أَنِّى أَسْرُدُالصَّوْمَ (telah  sampai [kabar] kepada nabi SAW bahwa aku berpuasa terus menerus). Sebagaimana yang telah disebutkan bahwa orang yang menyampaikan berita itu kepada nabi SAW adalah Amr bin Al Ash.
Sedangkan Imam Muslim  dalam hadis lain meriwayatkan dengan redaksi
عَلَيْكَ حَظًّا (ada bagian atasmu). Kemudian dalam riwayat al Ismaili dan imam Muslim terdapat tambahan,  وَصُمْ مِنْ كُلِّ عَشَرَةِأَيَّامٍ يَوْمًا وَلَكَ أجْرُ(berpuasalah sehari dalam setiap sepuluh hari dan bagimu pahala 9 hari).
3.      Nilai yang terkandung
Secara tekstual dari hadis yang pertama telah jelas bahwa kita harus menyeimbangkan antara urusan dunia dan akhirat karena kita tak akan sampai pada akhirat jika tidak melewati dunia. Dunia adalah  tempat kita menanam kebaikan sedangkan di akhirat kita akan memetik hasilnya jadi keberhasilan di akhirat juga tergantung keberhasilan kita selama di dunia. Keberhasilan ini bukanlah yang bersifat duniawi melainkan keberhasilan kita dalam mengatur keseimbangan urusan dunia dan akhirat.
Nabi melarang sahabatnya untuk terus sibuk beribadah dan melalaikan dunia karena manusia di dunia adalah makhluk hidup yang memiliki karakteristik sendiri. Manusia butuh makan untuk bertahan hidup. Apabila seseorang telah berkeluarga maka dia mempunyai tanggung jawab akan kelangsungan hidup anggota keluarganya dan ketika seseorang terlalu sibuk dengan kegiatan beribadah maka tubuhnya akan kurang semangat dalam mengerjakan hal lainnya. Sehingga ketika dia tidak bekerja dan membuat keluarganya menjadi terlantar sama saja dia berdosa karena tidak amanat. Nabi sendiri pun telah mencontohkan bagaimana beliau beribadah namun tidak melupakan bekerja. Pada waktu kecil beliau adalah seorang penggembala kambing dan ketika sudah dewasa beliau adalah seorang pedagang.
Kemudian dari hadis yang ke-dua secara tersirat juga menganjurkan kita untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Dan hal ini harus benar-benar kita perhatikan. Dalam hadis tersebut terdapat lafal inna yang berfungsi untuk menguatkan makna serta penggunaan huruf jar ‘ala yang menunjukkan konotasi wajib.
4.      Cara mengajarkan kepada anak didik :
a.       Memberikan imbalan dan hukuman terhadap setiap perbuatan anak.
Ketika anak mengerjakan perbuatan baik yang bersifat dunia maka anak diberi imbalan atau hadiah. Begitu pula ketika dia mengerjakan ibadah maka diberi imbalan pula. Hal ini dimaksudkan agar anak tidak berat sebelah dan mempunyai mainset yang sama tentang perbuatan duniawi dan ukhrawi.
 Contoh ketika anak berprestasi di sekolah maka dia diberi hadiah, ketika anak berhasil mengaji al- Quran hingga selesai 30 juz juga diberi hadiah.
b.      Memberikan waktu bermain dan belajar kepada anak, namun juga mengingatkan sang   anak agar tidak melupakan ibadahnya.
c.       Memberikan pengertian serta pengajaran yang sama antara kewajiban belajar dan beribadah.

DAFTAR PUSTAKA
Al Asqolani, Ibnu hajar. Fathul bari.  Jakarta : pustaka azzam.  2008.  (penerjemah) Amiruddin.
Al Bukhori, Abu ‘Abdillah Bin Ismail. 2006. Shahih Bukhari. Beirut: Darul Fikr.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar